Selasa, 07 Februari 2012

Telinga Berdengung

MESKI yakin telah membersihkan telinga dengan bersih, tak jarang Anda masih merasa terganggu dengan suara berdengung yang seakan terdengar di telinga. Apakah Anda mengalami hal ini?
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Mayo Clinic, sebanyak 20 persen orang Amerika mengalami rasa berdengung di telinga. Mayo Clinic adalah sebuah lembaga swadaya masyarakat yang berkonsentrasi pada penelitian dan praktek di bidang medis.
Dalam dunia kedokteran, sensasi berdengung atau perasaan bising di telinga dikenal dengan istilah tinnitus. Dulu para ahli kesehatan mendefinisikan tinnitus sebagai sebuah penyakit pada indera pendengaran. Namun, sekarang mereka mengelompokkan tinnitus ke dalam gejala-gejala yang menjadi tanda adanya masalah kesehatan lain.
Ada banyak sebab yang menjadikan telinga Anda berdengung. Beberapa bahkan merupakan sebuah gejala adanya gangguan kesehatan. Seperti bel atau lonceng sebagai penanda waktu. Jika anda merasa bising mendengar bel, bisa saja itu pertanda ada sesuatu yang tidak beres pada kesehatan.
Apapun sebabnya, jika hal ini terus-menerus Anda alami, ada baiknya segera memeriksakan diri ke dokter. Dokter akan memeriksa serta mendiagnosis sebab berdengungnya telinga Anda. Dengan begitu, tinnitus akan menjadi lebih cepat tertangani dan penyebabnya segera diketahui untuk perawatan lebih lanjut.
Adapun penyebab bunyi dengung di telinga (tinnitus) di antaranya:
Stres
Jika sedang mengalami depresi dan stres yang cukup tinggi, telinga Anda akan mengalami kemungkinan tinnitus yang tinggi. Seringkali Anda tidak merasa bahwa fisik dan mental sedang berada dalam kondisi stres. Gejala-gejala stres yang umum adalah nyeri otot, muncul perasaan cemas dan lebih emosional. Namun, Stres juga dapat memicu munculnya tinnitus. Jadi, jika Anda merasa telinga berdengung, bisa jadi Anda dalam keadaan stres. Segera tangani, karena stres dapat menyebabkan masalah kesehatan yang lebih besar lagi.
Tekanan darah tinggi atau rendah
Dengung di telinga juga menjadi pertanda bahwa tekanan darah Anda sedang tinggi, atau juga dalam kondisi yang sebaliknya, sangat rendah. Tekanan darah tinggi juga merupakan efek stres yang Anda alami. Segera periksakan, untuk memastikan penyebab tinnitus.
Suara keras
Telinga kita memiliki batasan kemampuan dalam mendengar. Manusia hanya dapat mendengar suara yang berada pada frekuensi 20 Hertz - 20 KHertz. Namun, meskipun batas maksimal 20 KHz masih dapat didengar, akan dapat merusak sistem pendengaran. Salah satu akibatnya adalah munculnya tinnitus. Untuk itu hindari mendengar musik terlalu keras. Jika Anda berniat menonton konser, tidak ada salahnya menyiapkan penyumbat telinga.
Alergi
Alergi juga bisa menjadi salah satu sebab telinga berdengung. Hal ini karena alergi dapat memicu lendir menumpuk ke bagian tengah telinga. Akibatnya, telinga mengalami tekanan yang lebih besar. Jika dibiarkan, hal ini kan memburuk dengan adanya kerentanan infeksi di telinga.
Meniere's disease
Perlu anda ketahui, selain sebagai alat pendengaran, telinga juga memengaruhi keseimbangan tubuh. Jika terdapat kelainan pada bagian dalam organ ini, akan berpengaruh pada bagian tubuh yang lain. Gangguan pada telinga bagian dalam biasa dikenal meniere's disease. Ini dapat mempengaruhi pendengaran dan keseimbangan yang berbeda-beda.
Salah satu gejala Anda terjangkit meniere's disease adalah telinga berdengung. Waspadalah dan segera periksakan ke dokter spesialis THT demi mengetahui lebih lanjut dan melakukan langkah antisipasi untuk meredakannya.
Jadi, jangan anggap remeh dengung di telinga Anda.
(berbagai sumber/dimas/CN16
http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/sehat/2011/02/20/583/Telinga-Berdengung-Gejala-Gangguan-Kesehatan.

Minggu, 05 Februari 2012

LINGKUNGAN BELAJAR YANG IDEAL DAN MENYENANGKAN


Proses belajar berlangsung dalam suasana lingkungan merupakan hasil komposisi dimensi ruang dan waktu, disertai fasilitas pembelajaran dan suasana psikologis. Lingkungan yang bising dan ramai tentu kurang cocok untuk belajar karena kebisingan dan keramaian dapat mengganggu konsentrasi anak didik. Namun lingkungan yang terlalu sunyi dan senyap kurang cocok untuk belajar karena akan membuat anak didik mudah mengantuk dan mudah bosan. Untuk menciptakan lingkungan yang kondusif, kita perlu melakukan penataan fasilitas belajar-mengajar yang meliputi: perabotan, pencahayaan, alat bantu visual, tata letak, temperatur, tanaman, kenyamanan, dan suasana hati.

  1. PERABOTAN
Pada umumnya kelas terdapat ada lemari, kursi, rak buku, meja, papan tulis, alat peraga, dan lain-lain. Perabot tersebut hendaknya ditata sebaik mungkin, sehingga ruang kelas terlihat teratur. Kebersihannya juga harus diperhatikan. Jangan lupa sediakan kotak sampah di kelas masing-masing. Biasakan siswa membuang sampah di tempat sampah.

  1. PENCAHAYAAN
Ruang kelas harus cukup terang, sehingga cukup memfasilitasi mata untuk membaca buku maupun tulisan di papan tulis dengan jelas. Usahakan ruang kelas yang mempunyai jendela banyak, penerangan cahaya matahari cukup untuk kelas. Sediakan lampu menerangkan kelas di kala sore hari, malam hari atau hari mendung/hujan.

  1. ALAT BANTU VISUAL
Alat bantu visual terdiri dari papan tulis, papan tempel, alat peraga, OHP, dan lain-lain. Semuanya itu hendaknya ditempatkan secara teratur, digunakan secara tepat, dan disimpan kemblai secara aman.

  1. TATA LETAK
Meja dan kursi merupakan sarana pokok siswa untuk duduk, membaca, menulis, dan menggambar. Fungsi itu harus diusahakan maksimal. Tata letaknya diubah-ubah sesuai dengan situasi. Bagi sekolah SLB/B, format meja dan kursi adalah melingkar. Format ini berguna untuk memudahkan proses belajar mengajar, yaitu antar siswa maupun siswa-guru dapat saling memperhatikan, menatap dan berkomunikasi. Pada saat ulangan, meja sebaiknya diubah menjadi format baris-barisan, hal ini untuk menghindari resiko anak yang suka menyontek soal-soal ulangan.

  1. TEMPERATUR
Temperatur ruang kelas harus sejuk, idealnya adalah 24 derajat Celcius. Disertai sirkulasi udara yang baik, sehingga ruang kelas tidak terasa gerah. Sirkulasi udara yang tidak baik dapat menyebabkan ruangan kekurangan oksigen. Bila hal ini dibiarkan, akan mengakibatkan murid mudah mengantuk, pusing, kurang konsentrasi dan tidak semangat belajar. Bagi sekolah yang ada di daerah panas sebaiknya dipasang kipas angin atau AC.

  1. TANAMAN
Adanya tanaman bunga dalam pot di ruang kelas dan vas bunga dimeja guru, akan menambah keindahan kelas. Selain itu okesigen yang dihasilkan tanaman itu juga bermanfaat menambah kesegaran udara di ruang kelas tersebut.

  1. KENYAMANAN
Selain meperhatikan sirkulasi udara, ruang kelas sebaiknya dihindari dari udara yang berbau tidak sedap, misalnya: kaos kaki siswa, bau air selokan atau sungai, bau kolam, dan sampah. Usahakan udara di kelas tetap segar. Guru dan murid boleh memakai parfum atau deodorant, bagi yang bau keringatnya.

  1. SUASANA HATI
Kegiatan belajar-mengajar akan lebih efektif apabila didukung suasana hati yang riang gembira (menyenangkan). Dengan demikian suasana belajar tidak menimbulkan stress dan ketegangan pada siswa. Guru sangat berperan penting dalam menciptakan suasana hati tersebut. Guru yang menampakkan ekspresi murung, sedih, dan marah-marah, semua ini akan mempengaruhi siswanya.

  1. HUBUNGAN SIKAP TUBUH DAN PIKIRAN
Pembelajaran yang efektif merupakan hasil interaksi seluruh tubuh dan pikiran. Untuk mencapai hasil belajar yang baik, dituntut sikap tubuh yang baik pula. Misalnya: membaca sambil tiduran tentu kurang baik hasilnya daripada membaca dengan duduk tegak. Pada waktu menulis, mata siswa jangan terlalu dekat dengan bukunya. Semua hal ini akan merusak mata dan tubuh. Ciptakan suasana senang dan minat yang besar terhadap apa yang dipelajari.

Minggu, 04 Desember 2011

METODE MATERNAL REFLEKTIF / METODE PERCAKAPAN REFLKETIF


Metode Maternal Reflektif atau Metode Percakapan Reflektif adalah metode yang sering digunakan ibu sewaktu berbicara dengan bayi yang belum memiliki bahasa. Metode Maternal Reflektif dapat disingkat MMR. Dalam metode ini, bahasa disajikan sewajar mungkin pada anak, baik secara ekspresif maupun reseptifnya dan menuntun anak secara bertahap dapat menemukan sendiri tata bentuk bahasa melalui refleksi terhadap segala pengalaman bahasa. Dr. A. Van Uden berkesimpulan bahwa metode ini adalah metode paling tepat bagi anak tunarungu yang belajar berbahasa lisan.
Sang ibu sering berbicara kepada bayinya yang belum bisa berbahasa, bayinya berusaha meniru bicara ibunya. Sang ibu terus berulang-ulang berbicara, misalnya, “sayai mama”. Bayinya akan berusaha meniru suara ibunya sedikit demi sedikit seiring pertumbuhannya. “ma… ma…” Akhirnya bayi dapat berbicara. Itulah semua adalah cara MMR. Metode ini dapat dijadikan pijakan bagi anak-anak tunarungu untuk belajar berbahasa, berbicara, dan membaca ujaran.

Tujuan MMR adalah:
  1. Agar anak tunarungu dapat semakin bersikap oral
  2. Agar anak tunarungu dapat dan suka mengungkapkan ide, gagasan, pikiran, dan curahan hati
  3. Agar anak tunarungu dapat dan suka membaca sendiri

4.       Agar anak tunarungu dapat berkomunikasi dengan teman sebayanya yang berpendengarannya normal
Perkembangan penguasaan bahasa dan kemampuan berbahasa anak tunarungu yang menggunakan MMR bersumbu pada percakapan. Setiap hari kita sering berbicara satu sama lain, begitu pula dengan mereka. Yang terpenting adalah percakapan dimulai dengan seorang anak, kita menangkap maksud atau pernyataan anak tersebut, lalu menafsirkan pernyataan dengan cara bertanya. Apabila ada anak salah mengucapkan fonem dan kalimat, kita berusaha membetulkannya. Usahakan kita sering bertanya, mengundang, mangajak, menentang, bahkan berdebat untuk menimbulkan reaksi spontan dari anak ini sehingga percakapan ada lanjutannya. Percakapan ini akan menghasilkan anak tersebut dapat bersikap oral dengan lancar, artikulasinya jelas, dan berani bergaul, serta mencapai kemampuan berbahasa yang maksimal.

Motto MMR adalah: APA YANG INGIN KAU KATAKAN, KATAKANLAH SAJA.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost Coupons